03 Agustus 2008

100 Tahun Perlawanan Kaum Samin

Gerakan perlawanan Samin, yang muncul pada tahun 1890-an, kini menemukan bentuknya yang baru. Di awal kemunculannya, lawan mereka berupa kolonial Belanda dan penguasa pribumi yang mengisap. Kini, para penerus Samin Surosentiko itu berhadapan dengan perusahaan ekstraksi yang bersekutu dengan penguasa. Lawan para Samin sebenarnya tetaplah sama, yaitu para pemburu rente.

Antropolog Amrih Widodo mengatakan, gerakan Saminisme merupakan fenomena sosial yang tertua di seluruh Asia Tenggara, muncul sebagai bagian dari gerakan petani, yang oleh sejarawan sering disebut sebagai gerakan proto-nasionalisme. Gerakan ini mekar akibat makin ditancapkannya cengkeraman kekuasaan pemerintah kolonial pada akhir abad ke-19, kata Amrih, yang belasan tahun mendalami Saminisme.

Awalnya adalah sistem tanam paksa yang membuat petani menjadi kuli yang mengolah tanah bagi kolonial. Belanda kala itu juga mengumpulkan pajak untuk membiayai aparatnya. Para priayi pribumi ikut mengambil untung sistem itu dengan melestarikan hubungan tuan dan majikan yang mereka pelajari dari pemerintah kolonial. Dari situlah gerakan perlawanan Samin dimulai.

Lee Peluso dalam karyanya, Rich Forest, Poor People: Resource Control and Resitence in Jawa, menuliskan bahwa kebijakan dan peraturan Pemerintah Belanda untuk menguasai hutan membuat petani di sekitarnya kehilangan akses. Bagi penduduk desa yang miskin, kehilangan akses hutan berarti kehilangan sumber daya utamanya. Ini menyebabkan gerakan penolakan dan salah satunya ialah perlawanan tanpa kekerasan dari pengikut Samin yang hidup di dekat hutan jati.

Istilah “sedulur sikep” yang sekarang dipakai, menurut Amrih, merupakan nama diri untuk menunjuk kepada masyarakat petani yang oleh orang luar sering dinamakan sebagai masyarakat Samin atau penganut ajaran Saminisme, terutama yang tinggal di Kabupaten Pati, Kudus, dan Blora.

Orang luar menyebut kita orang Samin. Padahal, Samin tak lebih dari nama orang. Pengikut Samin itu pengakuannya ya wong (orang) sikep atau sedulur (saudara) sikep (makna harfiahnya berpelukan erat), kata Gunretno, salah seorang tokoh muda Sedulur Sikep.

Di mata Amrih, kata sikep merupakan cara untuk melawan atau menghindari penamaan dengan menggunakan kata samin akibat konotasi negatif yang dilekatkan pada kata tersebut selama bertahun-tahun, terutama ketika wacana Saminisme makin dipisahkan dari semangat gerakan perlawanan petani.

Pemasungan kata Samin dan Saminisme dari konteks sejarah perlawanan ini merupakan dampak kebijakan politik kebudayaan dan hegemoni developmentalisme pada zaman rezim Orde Baru.

Dalam dokumen sejarah nasional ataupun sejarah lokal di Jawa Tengah dan Jawa Timur, gerakan Saminisme menduduki posisi penting sebagai wujud perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda.

Akhir hidup

Penindasan yang sama oleh perangkat pemerintah desa sesudah negara Indonesia mendapatkan kemerdekaannya menjadi energi yang terus menghidupkan kultur perlawanan Saminisme. Sedulur sikep tak bisa dipisahkan dari semangat gerakan Saminisme yang pada dasarnya merupakan gerakan perlawanan petani terhadap kebijakan yang menindas rakyat kecil.

Dulu pelaku penindasan itu adalah pemerintah kolonial, sekarang kekuasaan pascakolonial, entah yang berbentuk penentuan dan penarikan pajak/retribusi yang berlebihan, kerja bakti atau keikutsertaan dalam program pemerintah secara paksa, pemaksaan identitas budaya dan agama, maupun perampasan hak milik dan sumber penghasilan, dengan dalih pembangunan, demi kepentingan nasional, dan peningkatan pendapatan daerah.

Menurut Amrih, ajaran yang dianut oleh Sedulur Sikep mendefinisikan jati diri mereka berpusat pada moda produksi pertanian sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan pertanian tanah, air, tanaman, pupuk, dan unsur-unsur pertanian lainnya tak hanya menentukan jasad hidup sosial ekonomi mereka, tetapi sekaligus menjadi esensi spiritual dan kultural yang mendefinisikan keber-ada-an mereka.Hidup sedulur sikep itu, ya, dari bertani. Kita tidak bisa hidup selain bertani, kata Gunretno.

Karena itu, menjadi masuk akal kalau yang paling merasakan ancaman besar ketika ada rencana pembangunan pabrik semen adalah Sedulur Sikep karena pabrik semen ini akan menghancurkan sekaligus sumber penghasilan, sumber hidup, dan sumber esensi jati diri mereka.

PT Semen Gresik mengatakan bahwa penambangan tidak akan mengenai lahan Sedulur Sikep. Tetapi, apakah dengan rusaknya pegunungan kapur itu sumber air untuk pertanian tidak akan hilang? ujar Gunretno.

Amrih membandingkan ancaman hancurnya kehidupan Sedulur Sikep akibat penambangan itu dengan seorang guru yang tak lagi mempunyai gedung sekolah, tak ada siswa maupun departemen pendidikan. Yang hilang tidak hanya gaji dan tunjangan bulanan karena pekerjaannya hilang, tetapi juga status sosial, jati diri, dan seluruh lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya lenyap.

Artinya, akhir kehidupan, akhir hidup. Dengan bertani, kami mengajarkan anak-anak untuk hidup. Sawah adalah guru dan cangkul adalah alat tulisnya, kata Gunretno.

Kepeloporan Sedulur Sikep di kawasan Sukolilo, menurut Amrih, sebenarnya bukan baru mulai ketika ada rencana pembangunan pabrik semen. Mereka sudah bertahun-tahun bekerja sama dengan sesama petani untuk memikirkan dan mencari jalan keluar dari persoalan-persoalan yang dihadapi petani: banjir tahunan, merosotnya harga gabah pada masa panen, hama tanaman, langkanya pupuk saat dibutuhkan.

Gerakan tolak pabrik semen ini mencuatkan peran mereka, selain karena besarnya investasi yang ditanamkan yang akibatnya tentu bersikerasnya pemerintah daerah ataupun Semen Gresik untuk mengegolkan tujuan, kurangnya konsultasi terhadap masyarakat petani yang terkena dampak langsung, pembelian tanah dalam skala besar-besaran, tetapi terutama karena besarnya ancaman terhadap esensi hidup Sedulur Sikep.

Sumber; ~ Kompas; Fokus 01-08-2008

#

Mereka yang Tak Mau Tunduk

Sebelum PT Semen Gresik membangun pabrik semen, mereka harus bisa menjelaskan dulu hakikat kesejahteraan karena kami merasa saat ini sudah sejahtera tanpa ada pabrik kata Gunretno, petani dari Dusun Bombong, Desa Batureo, Kecamatan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah.

Gunretno adalah salah satu tokoh muda Sedulur Sikep atau yang oleh orang luar biasa disebut masyarakat Samin mengacu pada tokoh gerakan ini, Samin Surontiko yang memelopori gerakan pembangkangan melawan feodalisme birokrasi Jawa dan penjajahan Belanda pada tahun 1890-an.

Dari dulu warga Sedulur Sikep tidak pernah kelaparan. Kami tidak miskin. Pemerintah saja yang selalu salah tanggap, menganggap kami miskin sehingga kami dimasukkan ke dalam kelompok masyarakat adat tertinggal sehingga harus diberi bantuan. Padahal, kami tidak pernah meminta bantuan, kata dia.

Dalam perspektif masyarakat Sedulur Sikep, kesejahteraan bukan semata dihitung dengan berapa banyak nilai uang yang dihasilkan, melainkan kemandirian berusaha sebagai petani. Itu artinya, faktor produksi yang mendukung pertanian, seperti sumber air dan lahan, harus terus dipelihara.

Anyaman gerakan

Gunretno, sebagaimana Sedulur Sikep lainnya, tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah formal. Namun, dia tak bodoh dan tak mudah dibodohi. Dia fasih membaca, berhitung, dan ke mana-mana menenteng laptop. Pergaulannya luas, dari dalam maupun luar negeri.

Ketika PT Semen Gresik membawa rombongan pejabat dan anggota dewan di Kabupaten Pati, tokoh masyarakat, dan wartawan ke sekitar pabrik semen di Tuban, Jawa Timur, Gunretno membawa 50 warga Sukolilo bergerilya ke daerah yang sama dengan biaya sendiri.

Mereka tak mau tunduk dengan penjejalan informasi yang ingin dilakukan oleh PT Semen Gresik melalui studi banding itu. Mereka ingin melihat sendiri apa yang terjadi di sana melalui pintu belakang yang selama ini ditutup rapat-rapat.

Minggu, 20 April 2008, sebanyak 50 warga Sukolilo menyewa bus ke Tuban. Mereka bertemu muka dan melihat sendiri kehidupan warga yang digembar-gemborkan PT Semen Gresik menjadi sejahtera setelah dibangunnya pabrik. Hasil perjalanan warga itu didokumentasikan warga menggunakan kamera video dan catatan tertulis.

Hasil studi banding yang diprakarsai PT Semen Gresik menghasilkan laporan cerita sukses dari penambangan, misalnya tentang iming-iming peningkatan pendapatan asli daerah Tuban dan janji-janji kemakmuran warga lokal. Cerita sukses itu kemudian dirilis di media-media massa.

Narasi yang berbeda muncul dari rekaman video, yang diedarkan warga dalam keping compact disk (CD) ataupun rekaman memori kolektif warga desa. Setelah kami datang sendiri dan berbicara dengan warga sekitar pabrik Semen Gresik di Tuban, kami semakin menolak rencana pembangunan pabrik semen di Sukolilo, kata Sapari, warga Sukolilo.

Di Tuban, Sapari dan puluhan warga Sukolilo lainnya menemukan kenyataan, warga sekitar pabrik semakin miskin setelah tanah-tanah mereka dibeli pabrik. Sebagian warga pada waktu itu mengaku dipaksa menjual lahan.

Lingkungan menjadi rusak, debu dari pabrik beterbangan, bunyi ledakan bukit-bukit kapur merontokkan genteng, dan air mengering. Lapangan kerja di pabrik juga sulit dimasuki. Suasana itu terekam dalam CD yang diedarkan warga untuk warga, menjadi semacam sarana penyampaian pesan yang efektif.

Tak bisa padam

Perlawanan petani Sukolilo, yang dimotori oleh Sedulur Sikep, semakin menguatkan fakta bahwa gerakan petani di Indonesia tidak benar-benar padam. Bentuk-bentuk perlawanan petani, baik bersifat individual, kolektif, maupun pemberontakan, terus terjadi di Indonesia.

Gerakan rakyat dari dulu ada dan tak pernah bisa dipadamkan, kata Hendro Sangkoyo dari School of Democratic Economy, gerakan itu terus berakumulasi.

Pemberontakan petani Banten, Ciomas, Cimareme, dan gerakan rakyat Samin serta berbagai peristiwa yang memperlihatkan gerakan resistensi petani tak pernah putus. Sejarawan Onghokham (1994) mencatat, sejak tahun 1830, seusai Perang Diponegoro hingga awal abad ke-20, sekitar tahun 1908, terjadi lebih dari 100 aksi resistensi petani, dari bentuk yang paling lunak sampai pemberontakan.

Dalam pengamatan Hendro, gerakan petani di Sukolilo memiliki akar sejarah yang panjang dalam rangkaian perlawanan petani Indonesia. Gerakan ini adalah gerakan sejati yang digerakkan oleh kesadaran paling dalam terhadap lingkungan sekitar mereka.

Gerakan hampir serupa saat ini makin marak terjadi di tempat lain, misalnya gerakan perlawanan petani Kulonprogo, Yogyakarta, terhadap rencana pembangunan industri pengolahan pasir besi. Ciri gerakan ini adalah motor penggeraknya berasal warga lokal, yang berangkat dari kesadaran untuk menegakkan kedaulatan bertani.

Mereka juga tidak membutuhkan pihak luar untuk memberdayakan karena mereka sendiri sebenarnya yang lebih menguasai permasalahan. Pihak luar, dari kalangan organisasi nonpemerintah ataupun kalangan akademisi, biasanya akan dipanggil hanya jika mereka merasa membutuhkan.

Beberapa waktu lalu, warga yang menolak pembangunan pabrik semen dipanggil polisi. Akhirnya, kami laporkan masalah itu ke LBH. Pemanggilan itu sepertinya tidak diteruskan lagi, kata Sapari. Masyarakat seakan menggunakan LBH sebagai kawan untuk meningkatkan posisi tawar mereka di hadapan penguasa.
Banyak LSM dan akademisi yang datang ke sini. Kami terima sebagai kawan untuk menguatkan. Tapi, kami tidak bergantung pada mereka, kata Gunretno.

Petani yang selama ini dicitrakan sebagai kelompok pasif sehingga harus diberdayakan mesti dibongkar. Gerakan petani di Sukolilo menunjukkan, rakyat memiliki kemampuan melawan kerusakan dan sanggup memulihkannya sendiri. Mereka juga sanggup membangun jaringan sendiri, ujar Hendro.

Karena itu, di mata Hendro, aktivis gerakan sosial, yang tidak peka dengan perkembangan gerakan baru ini dan masih menggunakan pendekatan lama yang memandang rendah kemampuan petani pasti akan ditinggalkan petani.

Sayangnya, gerak yang sangat dinamis di bawah itu tidak terkejar oleh pendekatan-pendekatan yang dilakukan pemerintah. Jadi, selalu saja, gerakan rakyat dicurigai ada dalangnya, yang biasanya diasosiasikan berasal dari kalangan organisasi nonpemerintah ataupun kelompok politik tertentu. Orang-orang yang menolak pabrik semen dituduh menerima uang dari LSM. Padahal, ini murni gerakan petani. Untuk pergi ke Tuban, kami juga iuran, kata Gunretno.

Gerakan petani Sukolilo, yang dimotori Sedulur Sikep, seperti masih akan panjang karena atas nama pendapatan asli daerah, pemerintah telah menutup mata terhadap hakikat kesejahteraan sebagaimana digugat oleh warganya sendiri

Sumber; ~ Kompas; Fokus 01-08-2008

Komentar :

ada 2 Komentar ke “100 Tahun Perlawanan Kaum Samin”
Anonim mengatakan...
pada hari 

Untuk itu, sesuai dengan PP No. 26 tahun 2008 tentang RTRW Nasional yang menyatakan bahwa kawasan karst masuk dalam areal kawasan lindung nasional dan mengingat Kawasan Karst Sukolilo yang ada di 3 (tiga) kabupaten yaitu Kabupaten Pati, Grobogan dan Blora ini merupakan kawasan penyimpan air bagi seluruh mata air karst di tiga daerah setempat maka sudah sepatutnya PT. Semen Gresik membatalkan rencana pembangunan pabriknya; begitu juga untuk Pemerintahan Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora perlu segera mengambil kebijakan untuk menetapkan kawasan ini sebagai kawasan karst yang dilindungi agar fungsinya tetap terjaga sehingga risiko bencana ekologis dan rusaknya nilai-nilai sejarah di kemudian hari dapat dihindari.

Begitu juga kajian alternatif untuk pengembangan kawasan seperti misalnya potensi pariwisata yang terdapat di pegunungan Kendeng sangat memberikan dampak positif bagi pelestarian lingkungan. Bagaimana kekhasan karakter dan kearifan lokal masyarakat desanya adalah suatu potensi bangsa yang luar biasa untuk menuju masa depan yang berbudaya dan berwawasan lingkungan.


Blora, 3 November 2008
Eko Arifianto


*Koordinator Komunitas Pasang Surut, sebuah kelompok yang terdiri dari berbagai LSM dan elemen-elemen sosial di wilayah Blora, Cepu, Randublatung, Rembang, Purwodadi, Juwana, Pati, Kudus, Solo dan Semarang yang bergerak di bidang seni, budaya, sosial dan pelestarian lingkungan.

Mujiono mengatakan...
pada hari 

Salam kenal Bung Eko Arifiano..

Posting Komentar