12 Oktober 2008

The End of Laissez-Faire

Oleh; Sri-Edi Swasono


Saat ini AS panik. Tokoh investasi AS Warren Buffett mengisyaratkan awal kehancuran ekonomi AS ibarat hancurnya Pearl Harbour oleh serangan udara Jepang. Artinya, itu bisa sangat dahsyat. Harga-harga saham di seluruh dunia berguguran. Dow Jones terjun bebas hampir 600 poin sebagai rekor terendah sejak empat tahun. Indeks saham lain di AS juga turun mencemaskan. Inilah wujud the market failures yang harus dipahami oleh para pengagum ideolog laissez-faire.

Asumsi para fundamentalis pasar bahwa pasar adalah omniscient dan omnipotent, otomatically self-correcting, serta self-regulating menunjukkan bukti kegagalannya (saya tulis di Kompas). Bahkan, talangan (bailout) USD 700 miliar tidak meredam krisis finansial dan kepanikan. Sistem kapitalisme dan ideologi neoliberalisme (khususnya di AS) mulai diragukan.

Kerakusan Kapitalisme

Krisis keuangan AS timbul karena kerakusan kapitalisme. Kredit awut-awutan untuk melampiaskan kekayaan, suatu affluency selera mewah masyarakat AS, saat ini melaju dan mengakibatkan kredit berkembang tanpa kehati-hatian.

Diawali oleh krisis sub-prime mortgage, kredit pemilikan rumah di AS tahun lalu yang diperkirakan mencapai USD 2 triliun menjadi utang penuh risiko dan menyandang nama toxic debt karena nyaris tanpa jaminan. Oprah pun ikut mengungkapnya sebagai gaya hidup "lebih besar pasak daripada tiang". Kita heran terkuaknya borok ini tidak segera diwaspadai.

Kartu-kartu kredit menambah affluency dan pemborosan konsumtif, merobohkan sendi-sendi ekonomi seperti kartu domino. Kerakusan kapitalisme membuka topengnya sendiri. Rakus adalah baik (greed-is-good) -semboyan entrepreneurial kapitalisme- berubah brutal, menjadi kerakusan serakah.

Surat-surat kredit yang berkembang melalui jaminan-jaminan yang dijaminkan berupa derivatif-derivatif menjadi upaya licik terselubung bagaimana menciptakan kekayaan ("creating wealth") secara elusif dengan dampak delusif. Akibatnya, itu beredar menjadi modal-modal semu, sebagai bubble loans. Spread antara nilai intrinsik dan nilai nominal surat-surat kredit makin melebar.

Akibatnya, harga surat-surat kredit anjlok menjadi junk papers, saham tentu terbawa anjlok pula. Saham-saham di Asia terbawa terjun bebas (data internet 6/10). Bursa regional anjlok, IHSG Indonesia (-10%), HIS Hong Kong (-4,9%), TWII Taiwan (-1,4%), KS11 Korea Selatan (-4,3%), N225 Jepang (-4,2%), STI Singapura (-5,6%). Sementara itu, harga minyak yang turun menjadi USD 90 per barel tidak lagi disyukuri secara istimewa, tertutup kepanikan.

Keraguan dan uncertainties menumbuhkan business anxiety yang menyedot perhatian sehingga tak ada waktu untuk ngopeni pembangunan sektor riil yang riskan. Pengangguran telah meningkat. Pada September saja, pekerjaan berkurang hampir 160.000 pekerja. Kegiatan produktif anjlok. Ketakutan akan terjadinya resesi bukanlah mengada-ada. Prof Stiglitz yang bukan seorang market fundamentalist mengkhawatirkan lembaga keuangan AS lumpuh dan berhenti meminjamkan dana ke sektor riil. Ternyata, itu benar-benar terjadi.
***
Ekonomi Indonesia tidak terlepas dari krisis keuangan AS ini. Modal dan transaksi ekonomi dengan AS cukup aktif hidup dalam perekonomian Indonesia. Sebagai salah satu contohnya, Lehman Brother, yang utangnya mencapai USD 600 miliar, menyatakan diri bangkrut. Bukan rahasia lagi, Lehman Brother banyak berinvestasi di perusahaan-perusaha an besar Indonesia. Akibat langsung kita saksikan, saham-saham perusahaan-perusaha an Indonesia yang terkait dengan Lehman Brother anjlok jauh di atas rata-rata anjloknya saham-saham di Indonesia.

Ada yang bilang, modal asing jangka pendek di Indonesia sekitar USD 50 miliar. Karena itu, kita harus mewaspadainya jangan sampai terjadi capital outflow terlampau besar, perlu diciptakan kesempatan beneficial-nya. Ekspor sejak Agustus menurun dan impor merajalela. Kita harus hemat devisa. Dana-dana kita di luar negeri harus kita pantau agar tidak terbekukan oleh kontrol devisa atau kemandekan ekonomi luar negeri.

Pengetatan kontrol devisa kita berlakukan untuk menahan capital outflow. Capital inflow kita dorong tanpa kelewat mencurigainya sebagai pencucian modal. Negara-negara lain melakukannya. Rezim devisa bebas bukan zamannya lagi. Dalam keadaan apa pun, itu sangat potensial merugikan kepentingan nasional, bahkan bisa menjadi sumber malapetaka. Yang utama, pasar domestik dan daya beli rakyat harus dipelihara. Pasaran domestik kita luas, yang oleh luar negeri saja diincar, perlu kita andalkan demi kemandirian. Proses produksi dalam negeri perlu dilindungi.

Jangan biarkan barang-barang murah dari luar negeri, karena banting harga atau kompetisi tajam, menjadi pembunuh sektor produksi nasional. Contohnya, jangan biarkan tekstil murah bermotif batik dari Tiongkok dibiarkan membunuh usaha perbatikan Indonesia.

Pengutamaan produk dalam negeri harus kita tegakkan. Artinya, janganlah para importer Indonesia asal impor, kelewat mata duitan, dan mudah menjadi komprador asing, terdikte eksporter asing rekan dagangnya di luar negeri, lalu lupa kepentingan rakyat dan kepentingan nasional. Ekonomi rakyat yang menyelamatkan rakyat dari krismon 1992-2002 harus kita lindungi. Jangan gusuri PKL-PKL dan pasar-pasar tradisional.

Secara inkonvensional, ekspor harus kita tingkatkan. Kita amati situasi negara-negara tujuan ekspor, jangan sampai nantinya ada hambatan pembukaan dan pencairan L/C. Impor yang bersifat konsumtif kita batasi dengan berbagai cara, prioritasnya menyelamatkan pasar domestik. Sudah saatnya kita mewaspadai gejala affluent society yang dicemaskan oleh Galbraith (sudah saya tulis di Jawa Pos 9/9). Affluency ini kita saksikan melalui iklan-iklan konsumsi supermewah di media-media massa Indonesia, yang semuanya berasal dari kredit finansial.

Penjaminan pemerintah Amerika Serikat sebesar USD 700 miliar banyak yang meragukan hasilnya. Penjaminan itu mirip dengan BLBI I dan BLBI II kita. Amerika boleh belajar dari Indonesia, untuk menghindari moral hazard ala Indonesia.

Catatan Akademis

Menurut catatan akademis saya, sudah lima kali ditegaskan perlu diakhirinya pasar bebas (the end of laissez-faire) . Kali pertama oleh John Maynard Keynes sendiri (1926); kedua oleh Polanyi (1944); ketiga oleh Myrdal, Galbraith dst (1957-1960); dan keempat oleh Kuttner, Thurow, Sen, Soros, Stiglitz dst (1990-2002). Intinya adalah pasar penuh kegagalan-kegagalan , terutama dalam mengatasi ketimpangan- ketimÂpangan struktural. Hurwicz, Maskin, dan Myerson -ketiganya peneÂrima hadiah Nobel Ekonomi 2007- menjadi penegas kelima. Hatta juga sudah menegaskan hal ini (Krisis Ekonomi dan Kapitalisme, Batavia, 1934).

Tetapi, mengapa setiap kali laissez-faire dihujat agar diakhiri, setiap kali laissez-faire muncul lagi, mengapa laissez-faire menjadi living legacy? Jawabnya jelas: kapitalisme dan neoliberalisme ekonomi hanya bisa hidup subur dalam pasar bebas, agar tetap perkasa sebagai predator terhadap negara-negara lemah ekonomi.

Petaka finansial AS yang kemudian berubah menjadi petaka ekonomi tidak terlepas dari ideologi fundamentalisme pasar yang melekat pada Presiden Bush (meneruskan keyakinan Presiden Reagan), yakni pasar jangan diatur, percaya pada laissez-faire. Ternyata, sekarang laissez-faire sedang menampilkan wujud aslinya sebagai incapable market, penuh market failures.

Sayang, di Indonesia masih saja ada yang justru ikut-ikutan makin menjadi neoliberalis yang mengabdi pada pasar bebas entah demi keyakinan apa, lalu bilang "sebaiknya BI tidak melakukan intervensi". Pemerintah negara-negara Eropa sedang berkoordinasi untuk menghadapi dampak krisis keuangan AS. Terlepas dari krisis di AS ini, tahun lalu negara-negara Amerika mendirikan Banco Del Sur untuk berdikari melepaskan ketergantungannya kepada IMF dan Bank Dunia. Indonesia mestinya kembali menghidupkan kepemimpinannya di ASEAN, meneruskan cita-cita mendirikan IMF-ASEAN.

Adalah awal yang baik Presiden SBY mengajak kita optimistis, Gubernur BI Boediono mengajak kita tidak panik, dan Menkeu Sri Mulyani mengadakan "rapat darurat", giat memantau situasi perekonomian global. Ya ini dulu, jangan juali BUMN, melanggar konstitusi, tidak untung malah buntung.

Sri-Edi Swasono , guru besar UI dan guru besar luar biasa UNAIR
[Sumber; Kompas. Kamis, 09 Oktober 2008 ]

Komentar :

ada 2 Komentar ke “The End of Laissez-Faire”
Anonim mengatakan...
pada hari 

Salam pembebasan,
Di tingkat global setelah kisah krisis air, krisis iklim, krisis minyak, krisis pangan, kini krisis finansial naik panggung, Paradoksnya jalan krisis itu terus ditempuh. Masih saja mekanisme pasar dan korporasi dianggap solusi yang menjanjikan. Ironi abad ini, rasionalitas yang irasional. Rasionalitas yang paling tidak masuk akal.

It’s the capitalism, stupid! (adaptasi dari frase politik yang populer digunakan Clinton ketika berkampanye melawan George Bush Senior, it’s the economic, stupid!)

Silah kunjung
Krisis Keuangan Global : Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datara
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/krisis-keuangan-global-karl-marx-di.html

Anonim mengatakan...
pada hari 

Salam kepal kiri kawan...!!!

Posting Komentar